They Don’t Talk

6 03 2009

Di Bandung lagi musim hiburan topeng monyet.
Hampir di tiap perempatan ada topeng monyet ini. Bahkan satu perempatan ga cuma 1 grup, ya… sebelah utara ada, sebelah barat ada, jadi rame deh… ;)

Woh, baru aja gw liat-liat blog, akhirnya nemu halaman yang isinya gw quote-in sebagian, di sini.

Beberapa minggu yang lalu gw dan temen gw berencana nyari textbook, yaa biar sekali-kali bisa dicap sebagai mahasiswa yang baik dan rajin buang-buang uang. Dengan perencanaan setengah matang, akhirnya kita naik angkot trus ngambil taksi di tempat yang telah ditentukan.

Oke, sebelumnya gw mo bilang, if someone told you that taxi base is full of taxi, someone’s lying. Okay, someone’s may not, because actually it’s full of sh**! Tempat yang harusnya jadi tempat perlindungan taksi-taksi jika spesies mereka udah mo punah, malah jadi tempat nongkrong supir-supir taksi yang malas kerja. Curses!

Singkatnya, gw naek taksi dan harus menghadapi kenyataan kalo lampu merah berarti berhenti. Gw melihat ke samping dari kursi belakang. Topeng monyet. Wow.

Bagi orang kampungan kayak gw, topeng monyet adalah hal baru yang mesti diliat baik-baik. Orang yang normal akan merasa terhibur. Sayangnya, sebagai orang abnormal, sejalan dengan waktu t, gw merasa sebaliknya. Wow (lagi).

Would you look at that? Ketika lampu traffic masih ijo, pawang dan monyetnya gak melakukan apa-apa. Lampu merah. So how they do that? I mean, monkeys don’t talk human. As soon as I watched them closely, I found on what appears to be the answer. The chain. It really bothered me, it’s like watching someone get bullied.

Monyetnya gak bakalan bereaksi kecuali si pawang memberikan benda dan menarik rantai dengan kombinasi tertentu. Topeng monyet punya sejarah panjang di Indonesia, gw yakin, tapi untuk orang kampungan kayak gw, melihat sesuatu yang hidup dipaksa untuk melakukan sesuatu yang gak disukai, I don’t feel like clapping hands or anything. Apalagi rantai itu dipasang di bagian tubuh yang kalo ditarik dengan kencang sepertinya gak bakalan enak. Kalo enak, nanti monyetnya keenakan dong, heheh.

Untung monyet gak bisa ngomong. Oke, mungkin mereka bisa ngomong  a la monyet seperti yang film-film Hollywood telah doktrinkan kepada kita, tapi mereka tetap aja gak bisa ngomong bahasa paling cupu sekelas Bahasa Indonesia sekali pun. Andai mereka bisa ngomong, habislah kita manusia dicaci maki makhluk berbulu itu. Yeah, sesama makhluk berbulu jangan saling mencela. Hehehe.

Udah denger kisah tanah yang digambarin bisa bicara gak? Alkisah tanah suatu hari muak dengan seseorang yang tiap hari seenaknya saja nginjak-nginjak tanah. Manusia itu, seperti kita juga, akhirnya mati dan dikubur di dalam tanah. Konon tanahnya berbicara pada manusia itu dan mengatakan sesuatu yang kira-kira isinya gini, “Manusia busuk kayak elu tiap hari enak nginjak-nginjak gw. Sekarang rasain lu, gantian sekarang gw yang berkuasa! Hahaha! Ohok-ohok!” Syerem. Eh, lucu ding, ending-nya. Hehehe. Nyebut, euy, nyebut. Garing, garing. Kres, kres. Halah.

Yah, intinya manusia patut bersyukur mereka cuma bisa mengerti (literally) bahasa sesamanya. Tapi ironisnya, terkadang manusia, sebagai satu-satunya yang ngerti bahasa manusia, malah lupa ngingetin manusia kalo mereka gak bisa semena-mena di bumi.

Berarti boleh kalo di bulan dong? Ya elah, kalo gitu larangannya buat di Galaksi Bima Sakti deh! Garing, garing. Kres, kres. Halah.

Iklan

Aksi

Information

5 responses

17 04 2009
setuju-man

another abstract post

17 04 2009
agpisfrick

Yet, another comment.

21 04 2009
wuhugm

Tanahnya juga bisa pake bahasa gaul ya?

saya gak suka penggunaan bahasa gaul macam gue, lo, gua, bokap, dll…….

gak sopan banget kedengarannya……………

ini masuk kategori TBK

21 04 2009
agpisfrick

TBK as in….?

30 04 2009
wuhugm

As in To Be Killed

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: